
Narasumber (baris tengah dari kiri): DR. K.H. Aswin R. Yusuf, Buya H. Ramsisman Basri, dan Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah.
Peserta Musyawarah (baris bawah dari kiri): Prof. Dato’ H. Shushilil Azam b Shuib, Dr. Drs. Priyo Iswanto, M.H., Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, Prof. Dr. H. Muhammad Attamimy, M.Ag., dan Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D.
Bekasi – Di tengah tantangan dakwah dan dinamika organisasi umat yang kian kompleks, JmI terus berupaya meneguhkan arah perjuangan melalui penguatan pemahaman keislaman yang mendalam dan berlandaskan makrifat. Semangat tersebut tecermin dalam Musyawarah Dakwah dan Organisasi bersama Pembina JmI yang diselenggarakan di Ballroom Hotel Four Points by Sheraton Bekasi, Minggu (21/12/2025).
Kegiatan diikuti 94 peserta yang terdiri atas para akademisi dari berbagai DPD JmI Seluruh Indonesia dan Perwakilan Luar Negeri. Dari jumlah tersebut, 17 orang merupakan Guru Besar dari berbagai disiplin keilmuan yang memiliki keprihatinan mendalam terhadap persoalan umat di antaranya, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah (Yogyakarta), Prof. Dr. H. Imam Suprayogo (Malang), Prof. Dr. H. Muhammad Attamimy, M.Ag. (Ambon), Prof. Dr. H. Amries Rusli Tanjung, S.E., M.M.Ak. (Riau), Prof. Dr. H. Tasmin Tangngareng, M.Ag. (Makassar), Prof. Dr. H. M. Saiful Akhyar Lubis, M.A. (Medan), Prof. Drs. H. M. Fachri Adnan, M.Si., Ph.D. (Padang), Prof. Dr. H. M. Naswir, KM., M.Si. (Jambi), Prof. Dr. H. Zulkarnain S., M.Ag. (Bengkulu), Prof. Dr. H. Chairil Effendi, M.S. (Pontianak), Prof. Dr. H. Muhammad, M.Pd., M.S. (NTB), dan Prof. Dato’ Haji Shushilil Azam b Shuib (Malaysia).
Musyawarah ini menjadi ruang strategis untuk merefleksikan kembali hakikat dakwah di tengah realitas kehidupan umat yang terus berkembang. Dakwah kontemporer dihadapkan pada persimpangan antara sekadar rutinitas seremonial atau kembali menjadi jalan pembebasan ruhani.
Musyawarah diawali dengan pemaparan Buya H. Ramsisman Basri yang mengajak peserta kembali pada pertanyaan eksistensial tentang hakikat penciptaan manusia. Mengutip ayat falyanzuril insanu mimma khuliq (QS. 86:6), Buya Ramsisman menegaskan bahwa krisis akhlak tidak akan pernah selesai jika manusia gagal mengenali dirinya sendiri. Dakwah, menurutnya, bukan semata ajakan lisan, melainkan proses mengantarkan manusia dari kegelapan batin menuju kesadaran akan jati dirinya sebagai mukmin.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Prof. Amin Abdullah yang menyoroti kegelisahan dakwah kontemporer yang kerap terjebak pada formalitas simbolik, tetapi kehilangan daya transformasi. Menurutnya, core value JmI terletak pada keberanian menggali dakwah hingga ke lapisan terdalam, yaitu suara kebenaran yang termaktub dalam hati nurani. Al-Qur’an dan Sunnah tidak cukup dibaca sebagai teks, tetapi harus dihidupkan sebagai nilai yang membentuk hati dan perilaku sehari-hari.
Sebagai penutup, Pembina JmI, DR. K. H. Aswin R. Yusuf, menegaskan bahwa tujuan utama ajaran Islam adalah membentuk ketakwaan melalui pengenalan diri dan penyucian hati karena sumber kerusakan akhlak sejatinya berasal dari diri manusia sendiri. Al-Qur’an tidak hanya dipahami sebagai teks tertulis, tetapi sebagai petunjuk Ilahi yang harus dihayati dalam hati, sementara salat menjadi sarana utama penghubung antara hamba dengan Tuhannya.
Lebih lanjut, Pembina menguraikan, salat yang ditegakkan dengan pemahaman hakikat, kesabaran, dan kesadaran ruhani membimbing seorang mukmin untuk mengendalikan hawa nafsu, menguatkan iman dan tauhid, serta mengeluarkan dari kegelapan menuju terang-benderang. Dengan mengikuti teladan Rasulullah saw. melalui sifat-sifat profetik, diharapkan mampu membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia dan konsisten dalam menjalankan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari.
Refleksi mendalam ini meninggalkan kesan kuat bagi para peserta. Prof. Tasmin dari Makassar, menilai musyawarah ini sebagai kegiatan yang sangat dirindukan. Menurutnya, materi tentang pengenalan diri dan salat menyentuh kebutuhan mendasar umat dan relevan dengan tantangan zaman. Sementara itu, Prof. Azam dari Malaysia menekankan pentingnya istikamah dalam mengamalkan ilmu yang diperoleh. Ia juga mendorong sikap terbuka untuk bertanya dan belajar sebagai bagian dari perjalanan ruhani yang tidak pernah selesai.
Musyawarah Dakwah dan Organisasi ini menjadi momentum penting bagi JmI untuk memperkuat kembali arah dakwah. Di tengah krisis moral yang melanda dunia modern, JmI menegaskan kembali pentingnya pengenalan diri, pemurnian iman, dan pengamalan Islam secara utuh.
