Jumat, 20 Februari 2026
Manasik Umrah JmI, Teguhkan Perjalanan Syariat dan Hakikat Menuju Baitullah
Kegiatan Nasional

Manasik Umrah JmI, Teguhkan Perjalanan Syariat dan Hakikat Menuju Baitullah

Jumat, 17 Januari 2025
09:00 WIB
1091 views
Manasik Umrah JmI, Teguhkan Perjalanan Syariat dan Hakikat Menuju Baitullah

Narasumber (dari kiri atas): DR. K.H. Aswin R. Yusuf, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, dan Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D., Peserta Manasik: Prof. Drs. H. M. Fachri Adnan, M.Si., Ph.D., Prof. Dr. Lucky Zamzami, M.Soc.Sc., dan Prof. Dr. H. Muhammad, M.Pd., M.S.



Bekasi – Ibadah umrah bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang menuntut kesiapan niat, ketertiban, dan kesadaran mendalam sebagai seorang mukmin. Kesadaran inilah yang terus diteguhkan Dewan Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Islamiyah (DPP JmI) melalui rangkaian pembinaan umrah yang berkesinambungan, mengintegrasikan dimensi syariat dan hakikat.


Rangkaian kegiatan diawali dengan agenda Penatalaksanaan Umrah Syariat dan Hakikat yang diselenggarakan secara hybrid pada Sabtu (20/12/2025) di Masjid Ar-Ridho Baiti Jamak Islamiyah, Cikunir, Bekasi, dan Zoom Meeting. Agenda selanjutnya sosialisasi Pelaksanaan Umrah kepada seluruh peserta yang digelar pada Sabtu (10/1/2026) secara daring melalui Zoom Meeting.


Manasik Umrah 

Seluruh rangkaian tersebut kemudian diperteguh melalui “Manasik Umrah” bertema “Bagaimana Memahami Hakikat Haji dan Umrah” yang dilaksanakan di Ballroom Hotel Fairfield by Marriott Bekasi, Sabtu (17/1/2026). Kegiatan ini dirancang sebagai ruang pendalaman makna ibadah umrah, tidak hanya dari sisi penatalaksanaannya, tetapi yang lebih penting lagi pemahaman hakikatnya.


Dalam pandangan umumnya, Prof. Dr. H. M. Amin Abdullah, Ketua Majelis Guru Besar JmI, menegaskan bahwa seluruh rukun Islam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Umrah, menurutnya, adalah perjalanan ruhani yang menuntut niat dan tertib yang benar. Ia mengaitkan ibadah umrah dengan pesan Q.S. Al-Baqarah ayat 44–45 sebagai pengingat bahwa seorang mukmin pada hakikatnya sedang menempuh perjalanan kembali kepada Tuhannya.


Prof. Amin juga menguraikan konsep tasawuf takhalli, tahalli, dan tajalli sebagai proses untuk mencapai kemabruran umrah. Takhalli dimaknai sebagai pengosongan diri dari sifat-sifat buruk, tahalli adalah upaya menghiasi diri dengan sifat-sifat mukmin yaitu sidik, amanah, tablig, dan fatanah, sementara tajalli merupakan perwujudan perjumpaan dengan Tuhan yang tercermin dalam akhlak sehari-hari. Umrah yang mabrur, menurutnya, adalah umrah yang jejak spiritualnya tetap hidup setelah jemaah kembali ke tanah air.


Sebagai penutup manasik, Pembina JmI menjelaskan hakikat umrah melalui lintasan sejarah perjalanan spiritual para nabi, mulai dari pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa di Arafah, perjuangan Nabi Ibrahim dan Siti Hajar, hingga makna sai antara Safa dan Marwah sebagai simbol ikhtiar dan kepasrahan total kepada Allah Swt. Umrah, ditegaskan, adalah undangan langsung dari Rabbul Ka’bah yang hanya dapat dijalani dengan kesiapan niat, tertib, dan pemahaman hakikat.


Penjelasan Teknis

Selepas manasik, kegiatan dilanjutkan dengan “Penjelasan Teknis Perjalanan Umrah” di tempat yang sama. Dr. H. M. Reza Arfiansyah, S.Sos., M.M., CPC., Ketua Penyelenggaraan Umrah JmI, menegaskan bahwa umrah bukan perjalanan wisata, melainkan sarana pembinaan diri. Oleh karena itu, pemahaman manasik dan penatalaksanaan menjadi bekal utama agar ibadah dijalani secara benar, tertib, dan bermakna. Hal senada disampaikan Dr. H. Muharam Marzuki, M.A., Ph.D., Ketua Rombongan Umrah JmI, yang mengingatkan jemaah agar menjaga niat, kesabaran, dan disiplin selama perjalanan.


Penjelasan teknis lebih rinci disampaikan oleh H. Hening Pandji Irawan W.S., S.E., selaku Wakil Ketua Rombongan, yang menguraikan pentingnya koordinasi antarkelompok sebagai kunci kelancaran perjalanan. Ia juga menjelaskan secara detail ketentuan bagasi dan larangan barang bawaan, kewajiban penggunaan atribut resmi jemaah, serta alur keberangkatan hingga rangkaian pelaksanaan ibadah dan agenda selama berada di Arab Saudi.


Rangkaian kegiatan ini mendapat apresiasi dari para peserta umrah. Prof. Dr. H. Muhammad, M.Pd., M.S., Guru Besar Teknologi Pendidikan UIN Mataram, mengungkapkan kebahagiaannya karena mendapatkan pencerahan manasik umrah sebagai proses pembentukan kesadaran dan pematangan spiritual, bukan sekadar pembekalan teknis. Pemahaman yang mendalam tentang hakikat manasik, menurutnya, menjadi bekal utama agar jemaah mampu melaksanakan ibadah umrah secara lebih tertib, khusyuk, dan bermakna.


Perspektif serupa disampaikan Prof. Drs. H. M. Fachri Adnan, M.Si., Ph.D., Guru Besar Universitas Negeri Padang, yang menekankan pentingnya muraqabah dalam setiap rangkaian manasik. Ia mengajak jemaah untuk menata kesadaran batin sejak mikat, terutama saat tawaf qudum, sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah Swt. Seluruh ibadah, menurutnya, harus dijalani dengan kekhusyukan dan ketertiban agar pembinaan ruhani benar-benar dirasakan.


Sementara itu, Prof. Dr. Lucky Zamzami, M.Soc.Sc., Guru Besar Antropologi Universitas Andalas, memaknai umrah sebagai perjalanan spiritual “pulang ke kampung halaman”. Kemabruran umrah, tegasnya, tidak diukur dari ritual semata, melainkan dari perubahan kesadaran dan perilaku setelahnya. Salat lima waktu menjadi penopang utama agar nilai-nilai umrah tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.


Melalui rangkaian pembinaan yang utuh, mulai dari penatalaksanaan, manasik, sosialisasi, hingga penjelasan teknis, JmI meneguhkan komitmennya untuk menghadirkan ibadah umrah yang tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga bermakna secara hakikat. Umrah JmI Tahun 2026 diikuti 156 peserta dan dijadwalkan berangkat dari Jakarta pada Senin (19/1/2026). Perjalanan umrah kali ini diharapkan berjalan tertib, lancar, dan tercapai umrah yang mabrur.

Bagikan Kegiatan Ini